Penggunaan Strategi Story Reading Sebagai Upaya Meningkatkan Kecerdasan Verbal Linguistik Anak
Oleh : Surmiyati, S.Pd.AUD.
Mengajar Kelompok A TK Pertiwi Baturono, Salam, Magelang, Jawa Tengah
Salah satu konsep yang diuraikan oleh Gardner adalah Kecerdasan Verbal Linguistik. Menurut Gardner, kecerdasan linguistik memiliki fase perkembangan yang signifikan pada awal masa kanak-kanak dan tetap relevan hingga usia lanjut. Dari segi neurologis, kecerdasan ini berlokasi di bagian kiri otak dan lobus bagian depan. Kecerdasan linguistik diartikan sebagai kemampuan menggunakan kata-kata, termasuk lambang primer (kata-kata lisan) dan lambang sekunder (tulisan), bersama dengan aturan-aturan yang terkait.
Istilah lain yang sering digunakan untuk menggambarkan kecerdasan ini adalah kecerdasan bahasa. Anak dengan kecerdasan verbal linguistik yang tinggi mampu menunjukkan penguasaan bahasa yang memadai. Anak tersebut dapat mengisahkan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan ide, serta mengeksekusi tugas-tugas berbicara dan menulis, sambil secara mudah mempengaruhi orang lain melalui kata-katanya (Rahmat, 2021).
Dalam konteks perkembangan anak usia dini, pengembangan kecerdasan verbal linguistik dapat dicapai melalui berbagai strategi dan kegiatan pendidikan yang bertujuan mengoptimalkan kemampuan berbahasa anak-anak tersebut. Kemampuan berbahasa ini mencakup keterampilan berbicara, membaca, mendengarkan, dan menulis (Mutiah, 2015). Meskipun kecerdasan verbal linguistik memiliki peran sentral dalam pertumbuhan anak, namun mencapainya bukan hal yang mudah. Terdapat sebagian anak di TK Pertiwi Baturono, Salam, Magelang belum mampu berkomunikasi atau menceritakan pendapat mereka dengan baik.
Pendidikan pada usia dini memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan anak, terutama dalam aspek kecerdasan verbal linguistik. Anak usia taman kanak-kanak (TK) merupakan fase kritis dalam perkembangan kognitif dan linguistik mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kecerdasan verbal linguistik anak TK Pertiwi Baturono, Salam, Magelang. Salah satu pendekatan yang menarik dan dapat diimplementasikan dalam konteks pembelajaran di TK adalah penggunaan strategi story reading atau membacakan cerita.
Story reading tidak hanya mengenalkan anak-anak pada dunia literasi, tetapi juga membantu mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk kecerdasan verbal linguistik. TK Pertiwi Baturono di Salam, Magelang, sebagai lembaga pendidikan yang bertanggung jawab atas pembentukan dasar kecerdasan anak, dapat mempertimbangkan penerapan strategi story reading dalam kegiatan pembelajaran mereka (Kristianti, 2022).
Story reading merupakan teknik penyampaian materi pembelajaran dengan menghadirkan cerita melalui gambar (picture). Kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak dengan menyampaikan pesan-pesan melalui narasi cerita. Story Reading, yang juga dikenal sebagai metode bercerita, melibatkan membacakan cerita sebagai pendekatan pembelajaran. Tujuan utama dari metode bercerita adalah melatih daya tangkap anak, mengasah kemampuan berpikir, meningkatkan daya konsentrasi, mendukung perkembangan fantasi/imajinasi anak, serta menciptakan suasana kelompok yang menyenangkan dan akrab (Depdikbud, 2002).
Di TK Pertiwi Baturono di Salam, Magelang, strategi story reading diterapkan dengan langkah-langkah yang sistematis. Adapun rangkaian tahapan tersebut melibatkan: Pertama, Menjelaskan maksud dan tema kegiatan bercerita kepada anak. Kedua, Mengatur keorganisasian anak, termasuk posisi dan tempat duduk, serta aktivitas yang dilibatkan selama sesi bercerita. Ketiga, Menyusun peralatan, alat, dan media yang diperlukan untuk pelaksanaan bercerita. Keempat, Memulai cerita dengan merangsang pengalaman anak dan mengaitkannya dengan tema cerita, dalam pembelajaran, langkah ini disebut sebagai apersepsi.
Kelima, Melakukan penceritaan dengan pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar. Keenam, Merangsang partisipasi anak dalam bercerita, baik secara fisik maupun emosional, seperti memberikan pertanyaan langsung, memberikan rangsangan agar mereka bergerak atau melompat, dan sebagainya. Ketujuh, Mencari umpan balik (feedback) dari anak tentang pemahaman pesan dan pelaksanaan program penceritaan. Kedelapan, Mendorong anak untuk merumuskan atau merinci isi pesan cerita dan melakukan evaluasi.
Dengan mempertimbangkan pentingnya perkembangan kecerdasan verbal linguistik pada anak usia taman kanak-kanak (TK), penggunaan strategi Story Reading di TK Pertiwi Baturono, Salam, Magelang, merupakan langkah yang bermanfaat. Strategi ini, yang melibatkan pembacaaan cerita, dapat menjadi sarana efektif untuk merangsang dan meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak.
Melalui penerapan Story Reading, diharapkan anak-anak dapat mengembangkan keterampilan berbicara, pemahaman bahasa, dan kemampuan berpikir verbal. Proses ini tidak hanya mencakup pengenalan anak-anak pada literasi, tetapi juga menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif. Dengan memfasilitasi anak-anak untuk berpartisipasi dalam cerita, baik secara aktif maupun reseptif, strategi ini membantu mereka dalam mengartikulasikan ide, meningkatkan daya tangkap, dan memperkaya kosakata mereka.
Dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi Story Reading di TK Pertiwi Baturono dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan verbal linguistik anak-anak. Langkah ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan bahasa dan literasi anak-anak, menciptakan dasar yang kokoh untuk perkembangan kognitif mereka di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk terus memonitor dan mengevaluasi implementasi strategi ini agar dapat memaksimalkan manfaatnya dalam mendukung perkembangan optimal anak-anak TK Pertiwi Baturono. (Red)

