Implementasi Kurikulum di Madrasah Menuju Pendidikan yang Holistik
Oleh : Hidayati, S.Ag, M.Pd
Kepala/Guru MI Darul Ulum 01 Ngembalrejo, Bae, Kudus, Jawa Tengah
Di tengah tantangan zaman yang serba cepat, pendidikan di madrasah dituntut untuk tidak hanya mencetak siswa cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat dan hati yang penuh kasih sayang. Kementerian Agama melalui Direktorat KSKK Madrasah meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta, sebuah gerakan nilai yang menjadi ruh baru pendidikan Islam untuk menjawab krisis kemanusiaan, intoleransi, dan kerusakan lingkungan.
Pengertian Kurikulum Cinta
Kurikulum Cinta bukan kurikulum tandingan, melainkan penguatan nilai-nilai fundamental Islam yang telah lama ada, seperti kasih sayang (rahmah), empati, dan toleransi, yang kini diintegrasikan secara sistematis ke dalam seluruh kegiatan intra, ekstra, dan budaya madrasah/sekolah. Ia berfokus pada pembentukan hati dan karakter bangsa, melengkapi kecerdasan nalar.
Pilar Utama (Panca Cinta)
Implementasi Kurikulum Cinta di madrasah berlandaskan pada Panca Cinta yaitu : Pertama,Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya: Membangun kesadaran spiritual dan keimanan yang kuat, hal ini tentu ada faktor keteladanan dari para guru dan orang tua sehingga para murid akan menyadari pentingnya keserasian antara ucapan dan perbuatan.
Kedua, Cinta kepada Ilmu: Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kegigihan dalam belajar, budaya literasi/membaca harus ditingkatkan sehingga mereka akan selalu mencari hal-hal yang baru dan tidak cepat bosan ataupun menyerah.
Ketiga, Cinta kepada Lingkungan: Menjaga kelestarian alam semesta, mereka di berikan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan hal penting, karena segala ulah manusia yang merugikan dan tidak bertanggung jawab akan mengakibatkan bencana yang dapat menyebabkan ekosistem yang tidak seimbang.
Keempat, Cinta kepada Diri dan Sesama: Menghargai diri, toleransi, dan membangun empati, kebiasaan ini harus terus dilatih sehingga kita akan terbiasa untuk cinta terhadap diri dan kepada orang lain yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari yang saling asih, asah dan asuh.
Kelima, Cinta kepada Tanah Air: Memperkuat rasa nasionalisme dan kecintaan pada bangsa, bahwa mencintai tanah air dan bangsa merupakan bagian dari Iman harus di praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Implementasi di Madrasah
Pertama, Integrasi dalam Pembelajaran: Nilai-nilai cinta diintegrasikan dalam semua mata pelajaran, termasuk sains dan matematika, agar ilmu dan kasih sayang tidak terpisahkan. Kedua, Pembelajaran Berbasis Kasih Sayang: Guru menjadi “agen cinta” yang membimbing dengan sabar, tersenyum, dan menyapa ramah, menciptakan suasana belajar yang kondusif dan membebaskan. Ketiga, Penguatan Karakter dan Budaya Positif: Mendorong kerja sama dalam keberagaman, melatih empati, dan membangun relasi sosial yang harmonis. Keempat, Pendekatan Deep Learning: Mengajak siswa belajar secara sadar (mindfull) dan bermakna, bukan sekadar kognitif.
Manfaat dan Tujuan
Pertama, Menciptakan generasi yang berakhlak mulia, berdaya, dan beradab. Kedua, Mengatasi defisit cinta dan membangun peradaban yang lebih damai dan harmonis. Ketiga, Menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara emosional dan spiritual.
Dengan demikian Kurikulum Cinta adalah panggilan untuk kembali ke substansi pendidikan Islam yang humanis dan transformatif. Mari bersama-sama mewujudkan madrasah sebagai pusat pembentukan generasi yang hatinya penuh cinta, siap menghadapi masa depan dengan kebaikan dan keberadaban. (Red)

