Mengapa Manusia Tidak Sesederhana yang Terlihat? Menyelami Psikologi di Balik Perilaku Sehari-hari
Oleh : Yosefa Maria Jovita Maharani
Mahasiswa S-1 Farmasi Universitas Sebelas Maret
Setiap hari manusia berinteraksi, mengambil keputusan, merasa bahagia, kecewa, marah, atau cemas. Namun jarang sekali seseorang berhenti sejenak untuk bertanya: mengapa seseorang bereaksi seperti itu? Psikologi manusia jauh lebih rumit daripada yang terlihat. Di balik senyum seseorang, mungkin tersimpan rasa takut. Di balik amarah, mungkin ada kekecewaan yang lama terpendam. Dan di balik diam, bisa jadi ada kekuatan untuk bertahan. Memahami psikologi manusia adalah memahami diri sendiri seperti sebuah proses yang tidak pernah selesai, tetapi selalu penting.
Pertama, Manusia Selalu Dipengaruhi Masa Lalu
Walaupun seseorang hidup di masa kini, banyak respons emosional berasal dari pengalaman masa kecil atau situasi penting yang pernah dialami. Inilah alasannya mengapa, seseorang mudah cemas dalam situasi kompetitif, seseorang sulit mempercayai orang lain, atau seseorang mudah tersinggung oleh komentar kecil. Otak menyimpan jejak pengalaman, kemudian menggunakannya sebagai cara seseorang untuk bertahan. Manusia mungkin tidak selalu sadar, tetapi masa lalu bisa membentuk pola yang terus berulang pada dirinya sendiri. Perkembangan manusia merupakan hasil interaksi antara pengalaman sebelumnya, lingkungan, dan faktor biologis yang membentuk pola adaptasi jangka panjang (Cicchetti dan Rogosch, 2002). Oleh karena itu, seseorang bisa mudah cemas dalam situasi kompetitif atau sulit mempercayai orang lain bukan semata-mata karena kejadian saat ini, melainkan pola yang terbentuk sejak lama.
Kedua, Pikiran Manusia Tidak Pernah Sepenuhnya Tenang
Otak manusia memproduksi ribuan pikiran setiap hari. Sebagian pikiran membantu seseorang bertindak, tetapi sebagian lain justru malah mengganggu. Pikiran seperti “bagaimana kalau gagal?”, “apa pendapat orang?”, atau “apakah ini sudah cukup baik?” sering muncul secara tiba-tiba. Faktanya, kecenderungan otak untuk memunculkan ancaman psikologis sangat terkait dengan tingkat stres dan kecemasan yang dialami individu (Facchin dkk., 2025). Hal ini terjadi karena otak dirancang untuk mengantisipasi ancaman, bukan untuk membuat diri seseorang merasa nyaman. Akibatnya, banyak orang yang merasa gelisah meski tidak ada bahaya nyata. Semakin manusia mencoba mengusir pikiran negatif, semakin kuat pula pikiran itu akan kembali. Kuncinya bukan bagaimana cara seseorang menghilangkan pikiran tersebut, tetapi bagaimana orang tersebut mampu menyadari bahwa pikiran itu tidak selalu mencerminkan kenyataan.
Ketiga, Emosi Adalah Pemberi Pesan, Bukan Pengganggu
Banyak orang yang menganggap emosi sebagai sesuatu yang harus ditekan. Padahal, emosi adalah mekanisme alami yang memberi tahu apa yang kita butuhkan (Ogbaselase dkk, 2020). Misalnya rasa takut mengingatkan manusia agar waspada, sedih memberikan kesempatan untuk pulih, marah menandakan ada batas pribadi yang dilanggar, serta perasaan bahagia menguatkan manusia untuk mengulang perilaku yang membawa kebaikan. Riset menunjukkan bahwa strategi menekan emosi (expressive suppression) berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis dan gejala depresi, sedangkan strategi seperti cognitive reappraisal lebih adaptif untuk mengelola emosi (Ogbaselase dkk, 2020). Masalah muncul ketika seseorang menolak emosi tertentu, dan penolakan justru membuat tekanan tersebut semakin kuat. Sementara itu, menerima emosi dengan jujur dapat membuka jalan untuk pengelolaan diri yang lebih sehat.
Keempat, Manusia Membutuhkan Pengakuan Lebih dari yang Disadari
Salah satu kebutuhan psikologis terbesar manusia yaitu merasa dihargai. Bahkan orang yang terlihat mandiri sekalipun tetap membutuhkan pengakuan, apresiasi, atau sekadar didengarkan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan muncul rasa tidak cukup, rasa hampa, atau keinginan untuk bersaing terus-menerus. Inilah mengapa media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental. Di balik unggahan dan pencitraan, manusia sebenarnya sedang mencari validasi. Compassion dan self-compassion dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, mengurangi kecemasan, serta mendorong hubungan sosial yang lebih sehat (Di Fabio dan Saklofske, 2020). Namun validasi dari luar tidak pernah benar-benar memuaskan jika kita tidak menerima diri sendiri terlebih dahulu.
Kelima, Perilaku Sering Dibentuk oleh Lingkungan
Manusia mungkin merasa berperilaku berdasarkan pilihan pribadi, tetapi lingkungan juga memiliki peran yang besar. Cara seseorang berbicara, mengekspresikan diri, mengenali batas, atau mengambil keputusan sering dipengaruhi oleh keluarga, budaya, lingkungan sekolah atau kampus, teman sebaya, serta pola komunikasi yang biasa diterima. Otak manusia mudah meniru pola lingkungan. Jika hidup seseorang di lingkungan yang suportif, maka akan cenderung lebih percaya diri. Namun jika seseorang tersebut berada di lingkungan yang cenderung penuh kritik, konflik, atau minim kehangatan dapat meningkatkan risiko munculnya kesulitan regulasi emosi dan gejala depresi pada dirinya (Ogbaselase dkk., 2020).
Keenam, Kebutuhan Akan Kendali Membuat Manusia Rapuh
Banyak orang merasa tidak nyaman ketika kehilangan kendali. Mereka ingin segala hal berjalan sesuai rencana. Namun hidup tidak selalu memberi kepastian. Ketika kenyataan berbeda dari ekspektasi, di situlah muncul stres dan rasa frustrasi. Mekanisme pikiran menunjukkan bahwa dorongan mengendalikan pikiran negatif justru berpotensi memperburuk stres karena pikiran intrusif akan muncul lebih kuat saat ditolak (Magee dkk., 2012). Sebagian orang kemudian menuntut kesempurnaan dari dirinya sendiri, sedangkan yang lain mencoba untuk mengendalikan lingkungan. Namun semakin berusaha mengontrol semua hal, semakin besar pula tekanan yang muncul. Padahal, kemampuan beradaptasi jauh lebih penting daripada kemampuan mengendalikan segalanya.
Ketujuh, Mengenal Diri Sendiri adalah Keterampilan Sepanjang Hayat
Psikologi manusia mengajarkan bahwa mengenal diri bukanlah proses yang berhenti pada satu titik. Self-compassion adalah salah satu faktor protektif yang penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis, bahkan pada individu yang menghadapi tantangan berat seperti penyakit kronis (Facchin dkk., 2025). Manusia tumbuh, berubah, belajar, dan melewati berbagai fase hidup. Apa yang seseorang rasakan hari ini mungkin akan berbeda dengan tahun depan. Beberapa cara sederhana untuk mulai memahami diri seperti menyadari pola reaksi yang sering muncul, memberi waktu untuk refleksi, membatasi perbandingan diri, menerima emosi tanpa menghakimi, dan memprioritaskan kesehatan mental. Semakin manusia mengenal dirinya sendiri, semakin mudah pula untuk menjalani hidup dengan tenang.
Psikologis manusia adalah ruang yang luas, penuh misteri, dan terus berkembang (Cicchetti dan Rogosch, 2002). Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional, tetapi juga bukan makhluk yang sepenuhnya emosional. Manusia adalah perpaduan keduanya, perpaduan yang rumit, namun menakjubkan. Memahami cara kerja pikiran dan perasaan membantu seseorang melihat diri sendiri dengan lebih lembut.Dunia tidak selalu dapat dikendalikan, tetapi seseorang dapat belajar merawat diri, menerima proses, dan membangun hubungan yang lebih sehat, dimulai dari mengenal diri sendiri (Facchin dkk., 2025).
Daftar Pustaka
Facchin, F., Grosso, F., Saita, E., Vercellini, P., dan Pagnini, F. 2025. Can self-compassion and mindfulness predict psychological wellbeing in individuals with endometriosis? Findings from an online survey. BMC Women’s Health, 25, 310.
Cicchetti, D., dan Rogosch, F. A. 2002. A developmental psychopathology perspective on adolescence. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 70(1), 6–20.
Di Fabio, A., dan Saklofske, D. H. 2020. The relationship of compassion and self-compassion with personality and emotional intelligence. Personality and Individual Differences, 110109.
Magee, J. C., Harden, K. P., dan Teachman, B. A. 2012. Psychopathology and thought suppression: A quantitative review. Clinical Psychology Review, 32(3), 189–201.
Ogbaselase, F. A., Mancini, K. J., dan Luebbe, A. M. 2020. Indirect effect of family climate on adolescent depression through emotion regulatory processes. Emotion. (Red)

