Parenting Indonesia: Antara Tradisi dan Tantangan Zaman Modern
Oleh : Luvena Yocelyn Sanjaya
Mahasiswi FMIPA UNS
Parenting, atau pola asuh orang tua, adalah fondasi utama pembentukan karakter dan kepribadian anak. Parenting di Indonesia sedang mengalami masa transisi besar. Kalau dulu pola asuh lebih sederhana—orang tua bekerja, anak patuh—kini segalanya terasa lebih rumit. Dunia berubah cepat: teknologi, gaya hidup, hingga cara berkomunikasi. Di Indonesia, parenting tidak hanya soal bagaimana orang tua mendidik anak, tetapi juga erat kaitannya dengan nilai budaya, agama, dan norma sosial yang telah diwariskan turun-temurun. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pola parenting tradisional kini sedang diuji relevansinya. Banyak keluarga di Indonesia yang berada di persimpangan antara mempertahankan nilai lama dan menyesuaikannya dengan tuntutan zaman modern.
Secara tradisional, masyarakat Indonesia punya budaya yang kuat soal menghormati orang tua. Anak-anak dibesarkan dengan prinsip “orang tua selalu benar” dan “anak harus patuh”. Pola ini membentuk karakter disiplin, sopan, dan tangguh. Namun, di sisi lain, pendekatan yang terlalu otoriter sering kali membuat anak merasa takut mengemukakan pendapat atau menyampaikan perasaannya. Di banyak keluarga, komunikasi berjalan satu arah — dari orang tua ke anak —tanpa ruang bagi anak untuk bertanya atau berdiskusi.
Sekarang, situasinya mulai bergeser. Banyak orang tua muda Indonesia mulai mengenal konsep gentle parenting atau positive parenting yang lebih menekankan empati dan komunikasi dua arah. Anak tidak lagi dianggap “bawahan” yang harus tunduk, tapi individu yang perlu dipahami. Orang tua mulai belajar mendengarkan, menjelaskan alasan di balik aturan, dan menuntun tanpa kekerasan. Namun, proses pergeseran ini tidak selalu mulus. Sebagian orang tua masih bingung bagaimana menyeimbangkan antara disiplin dan kebebasan. Ada yang khawatir kalau terlalu lembut, anak jadi manja, tapi kalau terlalu keras, anak bisa menjauh secara emosional.
Tantangan terbesar parenting di Indonesia saat ini mungkin datang dari gawai dan dunia digital. Anak-anak sekarang lahir di era di mana layar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari belajar, bermain, hingga berinteraksi dengan teman, semuanya bisa dilakukan lewat ponsel. Sayangnya, tidak semua orang tua siap menghadapi realitas ini. Banyak yang belum punya literasi digital cukup untuk membimbing anak bersikap bijak di dunia maya. Akibatnya, tidak sedikit anak yang justru tumbuh lebih dekat dengan gadget ketimbang orang tuanya.
Masalahnya makin kompleks ketika kita bicara soal waktu dan ekonomi. Banyak orang tua di kota besar bekerja dari pagi sampai malam demi memenuhi kebutuhan hidup, sementara anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh atau layar. Di sisi lain, di daerah-daerah dengan keterbatasan akses pendidikan dan informasi, pola asuh tradisional yang keras masih dianggap cara paling efektif. Padahal, keduanya sama-sama menyimpan risiko: anak bisa kehilangan koneksi emosional dengan orang tuanya.
Namun, di tengah tantangan ini, ada hal positif yang patut disyukuri. Kesadaran orang tua Indonesia terhadap pentingnya pendidikan emosional mulai tumbuh. Media sosial kini dipenuhi konten edukatif seputar pola asuh, kesehatan mental anak, dan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Banyak komunitas parenting bermunculan, baik daring maupun luring, untuk saling berbagi pengalaman. Fenomena ini menunjukkan bahwa orang tua Indonesia sebenarnya mau belajar dan beradaptasi — hanya butuh panduan yang tepat dan dukungan lingkungan yang sehat.
Kini semakin banyak komunitas, lembaga pendidikan, hingga influencer yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya positive parenting. Program seminar, kelas daring, hingga konten edukatif di media sosial membantu orang tua memahami psikologi anak dan teknik komunikasi yang lebih efektif. Perlahan-lahan, kesadaran masyarakat mulai berubah. Orang tua tidak lagi merasa harus sempurna, tetapi mau belajar bersama anak. Mereka mulai memahami bahwa anak bukan sekadar objek yang dibentuk, melainkan individu yang tumbuh dengan emosi dan pemikiran sendiri.
Menariknya, parenting di Indonesia kini menjadi semacam “laboratorium sosial” yang mempertemukan dua dunia: nilai tradisional yang penuh hormat dan kedisiplinan, serta nilai modern yang menonjolkan empati dan kebebasan berpikir. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, di sinilah peluang besar muncul: membentuk generasi baru yang berakar pada budaya, tapi siap menghadapi dunia global.
Akhirnya, menjadi orang tua di era sekarang bukan soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau belajar. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna — mereka butuh orang tua yang hadir, mendengarkan, dan tumbuh bersama mereka. Parenting bukan lagi sekadar “mendidik anak”, tapi juga tentang mendidik diri sendiri untuk menjadi manusia yang lebih bijak.
Saya, Luvena Yocelyn Sanjaya, mahasiswi semester satu dari FMIPA UNS prodi Fisika. Selain menyukai memahami alam semesta dalam kacamata Fisika, saya menyukai cara memahami perilaku manusia, yang tak lain juga bagian dari alam itu sendiri. Di sini, sebagai tugas dari salah satu mata kuliah, saya membawakan salah satu isu yang pernah diangkat di kalangan generasi Milenial dan generazi Zoom atau gen Z. Rumah adalah tempat pendidikan pertama bagi seorang anak, maka dari itu, saya ingin membahasnya di sini. (Red)

