Pendidikan Budi Pekerti dalam Piwulang Sestradi Bersinergi dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Karakter Kurikulum Merdeka
Pada kurikulum 2013, kita mengenal Karakter abad 21 ,yang meliputi lima aspek keterampilan yaitu keterampilan komunikasi, keterampilan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah serta keterampilan berpikir kreatif dan inovatif (Putri., 2017: 2). Abad 21 merupakan masa dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Yang membuat komunikasi menjadi lebih mudah karena tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad 21 ini juga berpengaruh secara luas di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Sehingga muncul norma, pandangan, kebiasaan dan perilaku yang baru, yang mana disebut dengan gaya hidup modern. Beberapa kompetensi yang harus dimiliki siswa di abad 21 disebut 4C, diantaranya yaitu Critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).( Griffin dan Care, 2015). Semua kompetensi tersebut berkaitan dengan pendidikan karakter untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Bagaimana pendidikan karakter dalam kurikulum merdeka? Dalam kurikulum merdeka terdapat penerapan penguatan karakter siswa. Proses penguatan karakter tersebut dilakukan melalui pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek sesuai pada penguatan profil pelajar Pancasila. Siswa didorong memiliki karakter baik. Semua pelajaran diharapkan dapat membentuk karakter siswa. Penerapan Kurikulum Merdeka saat ini mendorong pendidikan karakter yang dilakukan melalui pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek pada penguatan profil pelajar Pancasila. Seiring berlakunya perubahan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka, yang sebelumnya ada lima nilai karakter (religius, nasionalis, integritas, mandiri, gotong royong) berubah menjadi 6 nilai karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila dengan enam ciri, yaitu : beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bernalar kritis, bergotong royong, mandiri, dan kreatif (Kemdikbud Ristek, 2022). Kurikulum merdeka didasarkan pada filsafat dari Ki Hajar Dewantara yang meciptakan Semboyan ing ngarsa sung tulada Ing Madya Mangun Karsa tut wuri handayani. Semboyan pertama adalah ing ngarsa sung tulada, yang jika diuraikan satu persatu, terdiri dari kata ing yang berarti “di”, ngarsa yang berarti “depan”, sung berarti “jadi”, dan tulada yang merupakan “contoh” atau “panutan”. Ing Madya Mangun Karsa Sama seperti semboyan yang pertama, Semboyan ing madya mangun karsa memiliki arti yaitu “di tengah memberi atau membangun semangat, niat, maupun kemauan”. Semboyan ing madya mangun karsa memiliki makna bahwa ketika guru atau pengajar berada di tengah¬tengah orang lain maupun muridnya, guru harus bisa membangkitkan atau membangun niat, kemauan, dan semangat dalam diri orang lain di sekitarnya. Kalau semboyan ketiga yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu tut wuri handayani mungkin sudah tidak asing, makna dari semboyan ketiga ini berarti ketika berada di belakang, pengajar atau guru harus bisa memberikan semangat maupun dorongan kepada para muridnya.
Kita tidak boleh melupakan sejarah pada era Pakualaman Yogyakarta Hadiningrat , Tokoh sejarah Pakualam 1. Beliau telah menyiratkan pendidikan karakter dalam buku sastra dengan judul Sestradi. Sebuah ajaran yang ditanamkan oleh Paku Alam I agar memiliki karakter, sifat mulia, dan berguna bagi orang lain, meski ada dua puluh satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan.
Bagaimanakah Sestradi Pakualaman Yogyakarta bersinergi dengan Filosofi Ki Hajar dewantara pada masa sekarang ini?. Manusia pada era modern dengan perkembangan teknologi yang amat pesat, mulai banyak mengalami pergeseran norma, perilaku dan tatakrama. Pada Kurikulum Merdeka yang memunculkan kembali filosofi Ki Hajar Dewantara , menjadi cita-cita banyak pihak yang rindu akan kehalusan dan keluhuran budi pekerti khas Indonesia, adat yang penuh santun , tata susila yang menghargai sesepuh dan pendahulunya. Melengkapi filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pengembangan budi pekerti (olah cipta, olah karya, olah karsa, dan olah raga) yang terpadu menjadi satu kesatuan. Dalam dunia pendidikan ,guru berpegang pada 4 poin penting berikut : Pertama, Prinsip kepemimpinan sebagai seorang guru yaitu Ing ngarso sung tuladho (maka orang tua atau guru sebagai suri tauladan anak dan siswa)Ing madya mangun karso (yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung) Tut wuri handayani (yang dibelakangan memberikan motivasi. Kedua, Sistem pendidikan yang dilakukan yaitu menggunakan sistem among atau Among Methode artinya guru itu menjaga, membina dan mendidik anak kasih sayang . Ketiga, Tri pusat pendidikan yaitu yang mewarnai peserta didik adalah keluarga, sekolah dan masyarakat.
Mencegah miskonsepsi terhadap tujuan pendidikan, Ki Hajar Dewantara menjelaskan tujuan pendidikan yakni menuntun segala kodrat yang ada pada anak¬anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sang Pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak agar dapat memperbaiki diri. Secara sederhana bahwa tugas seorang pendidik adalah menggali, menuntun, serta mengembangkan bakat dan minat siswa, bukan merubah apa yang siswa minati. Hal tersebut sejalan dengan Prinsip Filosofi Sestradi karya Pakualam I Yogyakarta, ada 3 prinsip yang dipedomani sebagai berikut : (1). Serat Sestradi sebagai pedoman dalam pengembangan nilai pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak melalui tembang, dolanan, dongeng, dan bahasa. (2) Tepas Pawiyatan Pakualaman dalam pembelajarannya berpedoman pada ajaran sestradi yang mengandung 21 ajaran perilaku baik yaitu ngadeg (takwa), sabar (sabar), sokur (syukur), narima (tulus ikhlas), sura (berani), mantep (mantap hati), temen (bersungguh-sungguh), suci (suci), enget (inget), sarana (sarana), istiyar (ikhtiar), prawira (perwira), dibya (bijaksana), swarjana (cerdas), bener (lurus hati), guna (pandai), kuat (kuat), nalar (nalar), gemi (hemat), prayitna (waspada) lan (dan) taberi (rajin). (3) Karakter anak terbentuk setelah dilakukan pengembangan nilai pendidikan karakter melalui serat sestradi. (https:// www.tribunnews.com/regional/2016/09/26).
Tertanam dalam sanubari, karakter tersebut mampu mendidik generasi masa depan menjadi penerus bangsa yang mampu menjaga dirinya dari perubahan negatif jaman. Kebijaksanaan menjadi akar dalam setiap tindakan yang dilakukan, mengingat pada hal yang baik dan mau berusaha berikhtiyar mencapai apa yang dicita-citakan. Pendidikan karakter orang Jawa memiliki tiga aras dasar utama. Tiga aras tersebut yaitu aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaan manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam wujud budi pekerti luhur. Maka di dalam falsafah ajaran hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan.Dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) keutamaan.
Penanaman karakter baik dalam budaya Jawa pada anak usia dini dapat dilakukan melalui pembiasaan melalui berbahasa jawa yang dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Putrihapsari dan Dimyati, 2021). Karakter menjadi penentu utama seseorang bisa bertahan terhadap perubahan jaman . Pendidikan karakter menjadi kunci agar seseorang mampu beradaptasi dalam setiap perubahan pada masa depan, Pendidikan budi pekerti dan piwulang di dalam Sestradi ataupun filosofi Ki Hajar Dewantara wajib kita jadikan fundamen pembentukan karakter anak bangsa dalam menghadapi perubahan jaman dari jaman teknologi analog menuju jaman teknologi digital.
