Munculnya Kembali Rafflesia : Saatnya Mengunggah Keseriusan dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati
Oleh : Muhammad Dicky Chandra Syahputra
Mahasiswa S-1 Farmasi UNS
Penemuan kembali Rafflesia hasseltii di pedalaman hutan Sumatra Barat yang belakangan ini viral di media sosial menarik perhatian banyak pihak, mulai dari masyarakat umum hingga para pemerhati lingkungan. Peristiwa langka ini bukan hanya menghadirkan rasa kagum, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar, yaitu bagaimana mungkin flora langka seperti Rafflesia masih dapat bertahan di tengah tekanan lingkungan yang terus meningkat? Apakah fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem kita masih terjaga, atau justru menjadi peringatan bahwa kelestarian alam sedang berada dalam ancaman? Kejadian ini bukan hanya menjadi kabar gembira bagi dunia botani, tetapi juga menjadi pengingat akan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia yang semakin rentan.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Dengan luas daratan hanya sekitar 1,3% dari total daratan global, Indonesia justru memiliki hutan hujan tropis terbesar dengan jumlah jenis flora dan fauna yang sangat melimpah. Keanekaragaman hayati tumbuhan di Indonesia mencapai lebih dari 25.000 spesies tumbuhan berbunga, atau sekitar 10% dari total spesies tumbuhan dunia, dan lebih dari 55% di antaranya merupakan tumbuhan endemik yang tidak ditemukan secara alami di negara lain. Flora endemik memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem karena keberadaannya mencerminkan kondisi lingkungan yang sehat. Namun, berbagai ancaman seperti deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan kurangnya kesadaran masyarakat menyebabkan banyak spesies endemik terancam punah. Indonesia sebenarnya memiliki sekitar 14.800 tanaman endemik yang perlu mendapat perlindungan serius agar tidak hilang dari alam (Ramadhani dkk., 2025).
Indonesia dikenal sebagai megabiodiversity country yang menempati peringkat keanekaragaman hayati daratan tertinggi kedua di dunia setelah Brazil (National Geographic Indonesia, 2019). Salah satu kekayaan flora tersebut adalah genus Rafflesia, bunga parasit berukuran besar yang sangat langka dan memiliki nilai ilmiah tinggi. Menurut Joko (2025), Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman Rafflesia tertinggi di dunia, dengan total 16 jenis yang berhasil diidentifikasi. Bahkan, tim BRIN telah mengumpulkan 13 sampel Rafflesia dari berbagai daerah untuk dianalisis DNA-nya. Hal ini menegaskan bahwa besarnya biodiversitas Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa upaya konservasi yang ada saat ini masih belum optimal. Berikut gambar Rafflesia hasseltii yang ditemukan di pedalaman hutan Sumatra Barat (Berlianda, 2025).
Sumber : www.detik.com
Gambar 1.1 Rafflesia hasseltii
Penulis berpendapat bahwa penemuan Rafflesia hasseltii kali ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar penemuan spesies langka. Proses penemuannya sendiri berlangsung selama 13 tahun dan melibatkan ilmuwan serta masyarakat lokal yang terus melacak keberadaannya. Dukungan pendanaan dari University of Oxford Botanical Garden and Arboretum menunjukkan bahwa Rafflesia memiliki nilai penting dalam riset biodiversitas global. Hal yang membuat temuan ini semakin signifikan ialah lokasinya yang berada di hutan desa dan berdekatan dengan kebun karet serta kebun kopi, bukan dalam kawasan konservasi resmi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa habitat alami Rafflesia semakin terfragmentasi.
Penelitian oleh Ramadhani (2025) menyatakan bahwa sekitar 70% habitat Rafflesia di Sumatra mengalami tekanan akibat pembukaan lahan dan konversi hutan. Dengan demikian, temuan di luar kawasan lindung merupakan bukti bahwa sistem konservasi yang ada belum mampu melindungi keseluruhan habitat flora langka tersebut. Selain itu, karakteristik biologis Rafflesia sendiri menunjukkan betapa rapuhnya keberadaan bunga ini. Rafflesia hasseltii memiliki diameter 35–70 cm dengan pola bercak khas yang dikenal masyarakat sebagai cendawan merah-putih atau cendawan harimau. Untuk dapat tumbuh, bunga ini sepenuhnya bergantung pada inang Tetrastigma pedunculare, tanaman merambat yang hanya hidup di hutan yang masih relatif utuh (Ramadhani dkk., 2025). Ketergantungan ekstrem terhadap satu inang menjadikan Rafflesia sangat sensitif terhadap kerusakan habitat.
Selain itu, bunga ini hanya mekar selama 5–7 hari sebelum mengalami pelayuan total (Lestari dan Susatya, 2022), sehingga peluang menemukannya dalam kondisi mekar sempurna sangat kecil. Studi oleh Nais (2001) bahkan menyebut bahwa tingkat kegagalan pembungaan Rafflesia dapat mencapai 80–90% akibat gangguan fisik dan perubahan lingkungan mikro. Oleh karena itu, temuan Rafflesia di luar kawasan konservasi menguatkan bukti bahwa kerangka konservasi Indonesia masih belum menyeluruh dan belum menjangkau ekosistem bernilai konservasi tinggi.
Fenomena sosial yang menyertai penemuan ini juga menunjukkan dinamika yang menarik. Dalam video ekspedisi yang viral di media sosial, tampak ekspresi haru salah satu anggota komunitas lokal saat menyaksikan bunga tersebut mekar untuk pertama kalinya. Reaksi itu menunjukkan kedekatan emosional masyarakat dengan alam sekaligus menegaskan peran kearifan lokal (local wisdom) dalam pelestarian spesies langka. Viralitas video ini memperlihatkan bahwa publik masih memiliki kepedulian terhadap flora endemik Indonesia. Namun, kepedulian tersebut harus disertai tindakan konkret.
Konservasi berbasis masyarakat berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan perlindungan spesies langka di tingkat tapak, terutama pada hutan desa dan hutan adat. Fragmentasi hutan di Indonesia terus meningkat akibat alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, dan lemahnya tata kelola lanskap, sehingga spesies endemik termasuk Rafflesia kian bergantung pada habitat tersisa di luar kawasan konservasi formal. Oleh karena itu, konservasi tidak dapat hanya mengandalkan kawasan lindung, tetapi harus melibatkan masyarakat lokal sebagai pengelola hutan sekaligus penjaga lanskap ekologis yang tersisa. Strategi konservasi paling efektif adalah yang mengintegrasikan pengelolaan berbasis komunitas, restorasi habitat, dan konektivitas ekologis pada kawasan-kawasan yang selama ini tidak tercatat sebagai habitat konservasi resmi (Gunawan dkk., 2024).
Berdasarkan uraian di atas, penulis menegaskan bahwa penemuan Rafflesia hasseltii bukan sekadar momen viral, tetapi sebuah alarm keras yang menuntut tindakan nyata. Indonesia tidak boleh hanya bangga sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, tetapi juga harus memastikan bahwa kekayaan itu tetap terjaga. Upaya pelestarian perlu diperkuat melalui edukasi lingkungan kepada masyarakat desa, pengelolaan hutan berkelanjutan, pendampingan dari lembaga konservasi, serta dukungan riset jangka panjang melalui kolaborasi nasional maupun internasional. Masyarakat bisa menyuarakan suaranya sebagai bentuk dukungan dengan memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk menyebarluaskan terkait pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia, serta dengan bergabung di suatu komunitas dalam melakukan gerakan menumpuk tangan hingga menjadi berdampak.
Selain itu, pemerintah perlu memperluas kawasan yang mendapatkan status perlindungan resmi maupun menetapkan zona konservasi berbasis komunitas. Pada akhirnya, menjaga Rafflesia berarti menjaga keseluruhan ekosistem hutan. Melestarikan flora endemik seperti Rafflesia bukan hanya soal mempertahankan satu spesies, tetapi juga menjaga identitas ekologis Indonesia yang merupakan warisan dunia. Penemuan kembali bunga Rafflesia ini seharusnya menggugah kita bahwa tanggung jawab menjaga alam tidak hanya berada di tangan pemerintah atau ilmuwan, tetapi juga merupakan kewajiban bersama sebagai warga negara yang hidup berdampingan dengan kekayaan hayati tersebut. (Red)


