Empati yang Perlahan Mati
Oleh : Rachel Nathania Tiara
Mahasiswa S-1 Farmasi UNS
Turut berduka cita atas kepergian Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa semester VII jurusan Psikologi di Universitas Udayana yang hidupnya berakhir dengan tidak seharusnya. Menurut laporan yang diakses pada 25 Oktober 2025 dari https://www.tvonenews.com/, pada Selasa (15/10/2025) Timothy atau yang akrab disapa Timy ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai empat gedung fakultasnya.
Timothy lahir pada 25 Agustus 2003 di Bandung, Jawa Barat. Dirangkum dari https://www.viva.co.id/ yang diakses pada 25 Oktober 2025, Wakil Dekan III FISIP Universitas Udayana mengatakan bahwa Timothy memiliki Indeks Prestasi mencapai 3,91, aktif dalam penelitian Bersama senior, dan bahkan terbiasa merapikan kursi atau ruangan sebelum dilangsungkannya kegiatan sebagai bentuk kepedulian kecil terhadap lingkungan kampus.
Timothy lahir pada 25 Agustus 2003 di Bandung, Jawa Barat. Dirangkum dari https://www.viva.co.id/ yang diakses pada 25 Oktober 2025, Wakil Dekan III FISIP Universitas Udayana mengatakan bahwa Timothy memiliki Indeks Prestasi mencapai 3,91, aktif dalam penelitian Bersama senior, dan bahkan terbiasa merapikan kursi atau ruangan sebelum dilangsungkannya kegiatan sebagai bentuk kepedulian kecil terhadap lingkungan kampus.
Teman-temannya menggambarkan sosoknya sebagai pribadi yang lembut dan selalu siap membantu siapa pun. Sementara, Ibu dari Timothy mengenang Ia yang selalu menghormati orang tua, memiliki rasa kasih sayang yang tinggi, dan sering memuji Sang Ibu dengan tulus.
Peristiwa ini yang paling menyedihkan dari bukan hanya soal kematian itu sendiri, melainkan apa yang datang setelahnya. Di antara kabar kehilangan, beredar percakapan mahasiswa yang justru menertawakan kematian Timothy. Beberapa diantaranya adalah calon dokter yang kelak bersumpah menolong nyawa manusia. Ironi yang menyakitkan, bagaimana seseorang yang belajar tentang kehidupan bisa begitu merendahkan kematian?
Pada 16 Oktober 2025, publik diguncang oleh beredarnya tangkapan layar percakapan sejumlah mahasiswa kedokteran di sebuah grup WhatsApp. Dalam obrolan yang dikutip dari https://medan.tribunnews.com/ pada 25 Oktober 2025, para calon dokter itu terlihat menanggapi secara tidak pantas tragedi kematian Timothy. Mereka bercanda, bahkan seolah meremehkan peristiwa duka yang seharusnya disikapi dengan empati dan keprihatinan.
Menjadi dokter bukan sekadar menguasai anatomi, farmakologi, atau keterampilan klinis. Inti dari profesi medis adalah kemanusiaan. Empati adalah fondasi yang membedakan dokter dari sekadar teknisi tubuh manusia. Seorang dokter diharapkan mampu merasakan penderitaan pasien, berkomunikasi dengan hati, dan menjunjung martabat setiap individu yang ia tangani.
Jika empati itu luntur bahkan sejak masa pendidikan, bagaimana nasib pelayanan kesehatan ke depan? Mahasiswa kedokteran berkompetisi dalam ujian, penelitian, dan praktik, tetapi barangkali belum cukup sering diajak merenungkan makna moral dari profesi yang mereka pilih. Padahal, tanggung jawab seorang dokter jauh melampaui ruang operasi dan meja diagnosis ia menyangkut kehidupan, kepercayaan, dan harapan manusia lain.
Pendidikan dokter seharusnya tidak hanya mencetak profesional yang terampil, tetapi juga pribadi yang bijak dan berperasaan. Dokter adalah profesi yang dipercaya masyarakat bukan hanya karena kepandaiannya, melainkan karena integritas dan rasa kemanusiaannya (Superadmin, 2023). Jika kepekaan itu hilang, maka profesi ini kehilangan makna sejatinya. Obrolan di grup WhatsApp itu mungkin tampak sepele bagi mereka yang menulisnya, tetapi bagi masyarakat, ia menjadi tanda bahaya: bahwa ada krisis empati di tengah calon penyembuh bangsa.
Menjadi dokter adalah tentang menyalakan harapan, bukan menertawakan penderitaan dan jika generasi muda kedokteran tidak belajar dari peristiwa ini, maka yang sakit bukan hanya pasien, tapi juga nurani profesinya sendiri.
Respon kampus pun dipertanyakan oleh media. Universitas Udayana tidak tinggal diam. Beberapa mahasiswa yang terlibat mendapat sanksi administratif. Laporan dari https://mediaindonesia.com/ yang diakses pada 25 Oktober 2025, enam diantaranya dipecat dari organisasi kemahasiswaan mereka. Selain itu, mendapat sanksi akademik berupa nilai D, serta meminta maaf melalui video di media sosial. Tetapi, sebagian dari permintaan maaf tersebut terdengar lebih seperti upaya menyelamatkan citra diri karena ketahuan, bukan karena benar-benar menyesali perbuatan mereka.
Hukuman formal semacam itu tak akan menumbuhkan kesadaran moral. Itu hanya menenangkan citra lembaga, bukan menyembuhkan luka kemanusiaan yang jauh lebih dalam.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi tempat menumbuhkan manusia, bukan hanya mencetak sarjana. Tetapi hari ini, dunia akademik lebih sibuk mengejar nilai dan akreditasi. Mahasiswa bisa hafal teori etika, tapi gagal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Kita memuja kecerdasan, tapi abai pada kebaikan. Mahasiswa bisa menulis esai panjang tentang etika, tapi gagal menunjukkan empati di kehidupan nyata. Kita bisa hafal pasal-pasal kode etik profesi, tapi menertawakan penderitaan orang lain tanpa rasa bersalah. Pendidikan seharusnya membuat manusia semakin peka, tapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin tinggi ilmu, semakin tumpul rasa.
Kasus Timothy seharusnya jadi tamparan keras bagi dunia akademik. Ia menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tidak bisa diajarkan lewat slide PowerPoint atau mata kuliah wajib. Empati tumbuh dari budaya, dari lingkungan yang memberi ruang untuk peduli, bukan hanya bersaing. Kasus Timothy bukan sekadar tragedi seorang mahasiswa. Ia adalah cermin besar bagi dunia pedidikan kita. Bahwa dibalik toga dan prestise, kita sedang kehilangan sesuatu yang lebih penting dari sekadar gelar, yaitu kemanusiaan. Kita memiliki banyak orang pintar, tapi tidak dengan yang benar-benar peduli.
Empati bukan teori. Menurut KBBI, empati membuat seseorang “merasa”. Jika dari bangku kuliah kita sudah terbiasa bersikap dingin pada penderitaan orang lain, maka nantinya kita akan menghasilkan generasi yang cerdas otaknya, tapi kering hatinya. Generasi yang bisa membuat diagnosis penyakit, tapi gagal mengenali rasa sakit, dan selama itu belum dipahami, tragedi seperti Timothy hanya akan menjadi berita sementara, sebelum akhirnya tenggelam, tergantikan dengan kasus baru yang sama-sama kehilangan rasa kemanusiaan. (Red)

