Pemanfaatan Maze Game (Permainan Labirin) dalam Mengintegrasikan Coding Unplugged Dengan Materi Sistem Saraf pada Manusia di Kelas VI SD Negeri 1 Sangge
Oleh : Novita Lestari, S. Pd.
Guru SD Negeri 1 Sangge, Klego, Boyolali
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya pada materi sistem saraf manusia, sering kali menjadi tantangan bagi guru sekolah dasar. Materi tersebut bersifat abstrak dan kompleks, melibatkan konsep-konsep yang sulit divisualisasikan oleh siswa, seperti neuron, impuls listrik, sistem saraf pusat dan tepi, serta mekanisme refleks. Pada praktik pembelajaran, siswa cenderung menghafal tanpa memahami konsep secara mendalam karena kegiatan belajar masih didominasi oleh metode ceramah. Kondisi ini menuntut adanya strategi pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan kontekstual agar siswa dapat memahami konsep secara konkret dan bermakna.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penulis yang bertugas sebagai guru kelas VI SD Negeri 1 Sangge mengembangkan pembelajaran berbasis permainan interaktif yang disebut Maze Game atau permainan labirin. Permainan ini merupakan bentuk penerapan coding unplugged, yaitu kegiatan belajar yang menanamkan prinsip-prinsip berpikir komputasional tanpa menggunakan perangkat digital. Melalui permainan labirin, siswa berperan aktif dalam memecahkan masalah dan menyusun langkah-langkah logis untuk mencapai tujuan tertentu sebagaimana prinsip algoritma dalam pemrograman. Pendekatan ini memperjelas pemahaman siswa tentang sistem saraf manusia sekaligus menumbuhkan kemampuan berpikir komputasional sejak dini.
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang menekankan kegiatan kolaboratif dan pemecahan masalah. Proses belajar dimulai dengan kegiatan apersepsi dan pengamatan fenomena sederhana di kelas. Dua siswa diminta melakukan simulasi refleks, satu siswa menggeser meja dengan cepat sementara siswa lain secara spontan menghindar. Guru mengajukan pertanyaan pemantik seperti “Mengapa gerakan itu bisa terjadi begitu cepat?” dan “Bagaimana otak memberi perintah kepada tangan?”. Pertanyaan tersebut menumbuhkan rasa ingin tahu siswa sebelum mereka menonton video pembelajaran mengenai sistem saraf manusia.
Tahap berikutnya menuntut keterlibatan aktif siswa dalam melengkapi mind map tentang sistem saraf. Guru menampilkan peta konsep yang belum lengkap, kemudian siswa melengkapinya bersama-sama. Penjelasan dilanjutkan dengan pembahasan keterkaitan antara kerja sistem saraf dan konsep coding. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melaksanakan kegiatan inti, yaitu permainan Maze Game. Dalam kegiatan ini, siswa bekerja sama menentukan rute yang menggambarkan jalannya impuls saraf dari stimulus menuju respon, misalnya jalur dari kulit ke otak dan kembali ke otot. Mereka menyusun urutan instruksi seperti “maju dua langkah”, “belok kanan”, atau “ulang jika salah jalur”. Kegiatan tersebut melatih kemampuan berpikir algoritmik, logis, dan sistematis sebagaimana dalam pemrograman komputer.
Guru memberikan arahan, memantau jalannya permainan, dan memfasilitasi diskusi kelompok. Setiap kelompok mempresentasikan hasil permainan serta menjelaskan bagaimana jalur labirin menggambarkan mekanisme kerja sistem saraf manusia. Pada akhir kegiatan, siswa menuliskan hal-hal yang sudah dan belum mereka pahami pada kertas kecil untuk ditempelkan di papan refleksi. Langkah ini menjadi sarana evaluasi formatif bagi guru dalam menilai efektivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aktivitas dan pemahaman siswa. Materi sistem saraf yang semula abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena divisualisasikan melalui permainan. Siswa mampu menjelaskan proses kerja sistem saraf dengan bahasa mereka sendiri serta menunjukkan peningkatan hasil diskusi dan penilaian kognitif. Suasana kelas tampak lebih hidup dan interaktif. Siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih percaya diri dan berani menyampaikan pendapat. Permainan Maze Game menghadirkan pengalaman belajar yang menggembirakan sekaligus bermakna. Manfaat kegiatan ini juga dirasakan oleh guru. Penerapan coding unplugged melalui permainan memberikan pengalaman baru dalam mengaitkan materi sains dengan konsep teknologi secara sederhana. Aktivitas tersebut selaras dengan prinsip Pembelajaran.

