“Finger Painting” Tingkatakan Kemampuan Anak TK B dalam Menggambar secara Inspiratif Era IKM
PAUD mulai menjadi isu sentral di dunia pendidikan salah satunya di Indonesia, karena anak sebagai aset masa depan bangsa. Anak menjadi bagian terpenting dalam komponen masyarakat Indonesia terutama pada era Kurikulum Merdeka Belajar saat ini. Anak sebagai pemilik masa kini dan masa depan bangsa. Anak bangsa sebagai estafet penerus peradaban dan sejarah kehidupan manusia Indonesia selanjutnya, begitu pentingnya anak dalam rantai kelangsungan tradisi suku dan keberagaman bangsa yang majemuk. Pendidik mengungkapkan bahwa pendidikan usia dini sebagai suatu periode yang penting dan perlu mendapat penanganan sedini mungkin. Peserta didik pada usia 3-4 tahun sebagai periode sensitif dan masa peka pada anak, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu distimulus dan diarahkan, sehingga tidak terhambat perkembangannya terutama pada zaman yang terus maju di Era IKM.
Pendidik mengungkapkan bahwa pendidikan anak usia dini bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik sejak dini. Anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya pada pendidikan formal. Pendidik mengungkapkan masa usia dini sebagai periode penting yang memberikan pengalaman awal dalam rentang kehidupan manusia. Pendidik menjelaskan pengalaman awal yang diperoleh anak pada masa tersebut akan mempengaruhi sikap, perasaan, pikiran dan perilaku anak. Rabi’ah (2014) menjelaskan bahwa pelatihan dan pengkondisian yang diberikan pada anak secara berlanjutan akan membantu anak mencapai berbagai tugas perkembangannya secara optimal.
Salah satu tugas perkembangan yang perlu dimiliki anak yakni keterampilan dalam berinteraksi dengan lingkungan guna mengekspresikan emosi secara positif dan wajar. Suntoso (dalam Sari: 2018) menjelaskan bahwa usia prasekolah merupakan periode emas dalam proses perkembangan. Peserta didik pada masa mengalami perkembangan untuk melakukan dasar pertama dalam meningkatkankan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian dan lain-lainnya. Anak usia dini adalah sosok individu sebagai makhluk sosiokultural yang sedang mengalami proses perkembangan yang sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya dan memiliki sejumlah karakteristik tertentu. Pendidik mengungkapkan beberapa tujuan pendidikan anak usia dini adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi: lingkup perkembangan nilai agama dan moral, fisik dan motorik, kognitif, bahasa, serta sosial emosional kemandirian.
Pendidik mengartikan proses belajar mengajar (proses pengajaran) sebagai interaksi anak dengan lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran, yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki anak setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Guru mengambil langkah yang tepat dalam menunjang kegiatan pembelajaranagar efektif dan efisien. Guru memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran yang telah disesuaikan dengan metode yang digunakan dan karakteristik jenis media sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Anak TK hendaknya memperoleh proses pembelajaran yang diselenggarakan secara menyenangkan, inspiratif, dan kreatif. Pendidik memotivasi anak agar mampu berpartisipasi aktif dalam setiap kesempatan untuk berkreasi dan melatih kemandiriannya sesuai dengan tahap fisik dan psikis. Siswa memiliki kemampuan mengenal warna sebagai salah satu kemampuan dalam mengembangkan aspek kognitif atau intelegensi. Pendidik dalam mengembangkan kemampuan mengenal warna pada anak usia dini sebagai hal yang penting bagi perkembangan otaknya. Pendidik melalui pengenalan warna pada anak usia dini dapat menstimulus indera penglihatan anak.
Menurut Sumanto (dalam Meuthia: 2019) menggambar sebagai kegiatan kreativitas yang dilakukan oleh manusia untuk mengungkapkan apapun yang dirasakan dan dialami baik secara mental dan visual dalam bentuk, garis dan warna.
Pendidik mengungkapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menggambar adalah membuat gambar, melukis, menghias gambar dan memberi gambar. Pendidik menarik kesimpulan menggambar sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara mencoret gambar, menoreh sampai terbentuk sebuah gambar untuk mengungkapkan apa yang dirasakan anak. Siswa melalui kegiatan menggambar dapat mengungkapkan apa yang dirasakan, baik mental dan visual dalam mengenal bentuk, garis dan warna.
Menurut Meuthia (2019) mengartikan, Finger Painting sebagai salah satu teknik menggambar yang dilakukan menggunakan jari tangan secara langsung sebagai pengganti kuas. Pendidik menjelaskan teknik dalam melakukan finger painting ini menggunakan bahan pewarna makanan, kemudian dicampur dengan tepung dan lem cair. Pendidik kemudian menerangkan cara mencampurkannya yaitu mencampurkan bahan pewarna makanan, tepung dan lem cair pada mangkok yang saat ini banyak di jual cat khusus untuk finger painting. Rafiqua (2020) mengungkapkan Finger painting adalah suatu teknik melukis yang menggunakan jari-jari tangan sebagai kuasnya. Anak memperoleh pengalaman yang menyenangkan melalui kegiatan ini untuk menstimulus perkembangan fisik dan mentalnya.
Menurut Wulandari (2016) menjelaskan bahwa, orang tua dan guru sangat memiliki peran penting dalam mengembangkan kreativitas anak. Anak mendapatkan pengalaman baru, berekspresi, dan bereksplorasi dengan adanya kegiatan pengembangan kreativitas. Siswa melalui kegiatan pembelajaran metode finger painting memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan imajinasinya. Anak dapat bereksperimen secara kreatif dan inovatif sesuai tumbuh kembang pikiran imajinatif anak. Rafiqua menyebutkan beberapa langkah-langkah finger painting, antara lain: 1) Guru menggunakan panci kecil untuk mencampurkan tepung maizena dengan air dingin secukupnya agar terbentuk menjadi pasta, 2) Tuangkan 1 cangkir air mendidih ke dalam panci dan aduk perlahan hingga tidak ada gumpalan dalam adonan sehingga terbentuk edible pant, 3) Nyalakan kompor dengan api sedang dan aduk hingga tercampur rata, 4) Masukkan adonan ke dalam toples, gelas atau wadah kosong, bagi rata sesuai jumlah pewarna yang tersedia, 5) Tambahkan pewarna makanan pada adonan dalam wadah lalu campur sampai merata, 6) Setelah tercampur merata, edible paint siap digunakan sesuai kreativitas siswa dalam menggambar, 7) Jika masih tersisa, tutup wadah cat dengan plastik wrap dan simpan di lemari es, 8) Setiap akan digunakan, selalu pastikan tidak ada tanda-tanda basi pada edible paint, seperti terjadi perubahan warna, tekstur, dan bau, 9) Jika adonan mengeras setelah disimpan di lemari es, tambahkan sedikit air mendidih atau diamkan edible paint tersebut selama beberapa jam di suhu ruang.
Anak tidak lagi malu bertanya terhadap kesulitan belajar yang dialaminya dengan adanya media melalui finger painting untuk menstimulus kemampuan dan kreativitas menggambar dengan teman sebayanya. Anak akan cenderung lebih mudah berinteraksi, menerima, dan memahami pembelajarannya. Dengan demikian, anak kelompok B di TK Mejing 1 Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah akan lebih mudah dalam meningkatkan kemampuan menggambar melalui finger painting agar hasil belajarnya meningkat pada era Kurikulum Merdeka sekarang ini.
