Quantum Teaching untuk Peningkatan Prestasi Belajar Prakarya pada Materi Pokok Pengolahan Bahan Pangan Serealia, Kacang-Kacangan dan Umbi menjadi Makanan atau Minuman
Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang memiliki nilai pendidikan. Nilai-nilai pendidikan mewarnai pendidikan yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi tersebut memiliki nilai edukatif karena kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilaksanakan (Djamarah dan Zain, 1996; 1). Mata pelajaran yang diajarkan dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah Prakarya. Mata pelajaran prakarya dapat memberikan manfaat kepada siswa agar berani dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Hal ini dikarenakan kompetensi dalam mata pelajaran prakarya merupakan bagian dari pembekalan life skill kepada siswa. Selain itu manfaat yang semakin dirasakan oleh siswa adalah pembelajarannya dalam menghasilkan suatu benda atau karya yang dikerjakan langsung oleh para siswa.
Prakarya memiliki peran penting dalam mengembangkan kreativitas dan mengembangkannya menjadi sebuah inovasi baru. Prakarya adalah ilmu yang mempelajari ketrampilan, kerajinan tangan, atau keterampilan tangan yang disusun secara sistematis dan jelas untuk mengembangkan kreativitas siswa dan menciptakan inovasi-inovasi baru.
Dalam merencanakan pembuatan karya pengolahan, harus diperhatikan hal-hal pokok apa saja yang ditugaskan, kemudian merencanakan pembuatannya. Agar dalam pembuatan suatu produk olahan dapat berjalan dengan baik, maka perlu diperhatikan tahapan/proses pembuatan pengolahan bahan pangan dari serealia, kacang-kacangan dan umbi menjadi makanan atau minuman yang sesuai dengan harapan.
Kondisi pembelajaran yang selalu diharapkan harus didukung oleh sumber daya manusia berupa kompetensi guru kelas dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan sarana prasarana secara tepat termasuk menggunakan metode yang digunakan. Dengan demikian diharapkan adanya hasil belajar yang meningkat seperti yang diharapkan, baik yang diharapkan oleh pendidik atau guru maupun yang diharapkan dari siswa dan orang tua atau wali siswa. Kemampuan guru dalam pembelajaran di kelas merupakan hal yang berpengaruh besar terhadap pemahaman materi yang disampaikan oleh guru yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.
Menanggapi hal tersebut di atas, maka pada mata pelajaran prakarya pada materi pokok pengolahan bahan pangan Serealia, KacangKacangan dan Umbi menjadi Makanan atau Minuman untuk siswa kelas 8 SMP Negeri 1 Tamansari Satu Atap Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali diterapkan metode Quantum Teaching untuk meningkatkan prestasi belajar. Quantum Teaching menurut DePorter, Reardon, dan Singer-Nourie (2009) adalah berbagai interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen pembelajaran. Interaksi ini termasuk unsur-unsur pembelajaran yang efektif yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Pembelajaran yang menghilangkan hambatan yang menghambat proses kegiatan pembelajaran dengan sengaja menggunakan musik/ mewarnai lingkungan sekitar, menyusun bahan ajar yang sesuai untuk pembelajaran yang efektif dan banyak mengaktifkan siswa.
Anitah (2009) menyatakan bahwa Quantum Teaching adalah menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan menggunakan unsur-unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Langkah-langkah penerapan Quantum Teaching meliputi: 1) Tumbuhkan: Pada tahap ini melibatkan siswa dalam pemikiran dan emosinya, sehingga tercipta ikatan dan kepemilikan bersama atau kemampuan untuk saling memahami. Secara umum konsep tumbuh adalah melibatkan diri, memikat hati, memuaskan rasa ingin tahu, membuat siswa tertarik atau penasaran dengan materi yang akan diajarkan; 2) Alami: Pada tahap ini guru memberikan cara yang terbaik kepada siswa untuk memahami informasi, memberikan permainan atau kegiatan yang memanfaatkan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga memudahkan siswa memperoleh pengetahuan yang melekat; 3) Namai: Konsep ini pada kegiatan inti, “nama” mengandung makna bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak (membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan tentang pengalaman) untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dalam hal ini adalah mengajarkan konsep, melatih keterampilan berpikir dan strategi belajar; 4) Demonstrasikan: Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa siswa tahu. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan tingkat pemahamannya terhadap materi yang dipelajari; 5) Ulangi: Pada tahap ini guru memberikan ulasan tentang apa yang telah dipelajari dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan pengetahuan baru kepada orang lain (kelompok lain), atau dapat mengerjakan soal post-test; 6) Rayakan: Tahap ini dituangkan dalam penutup pelajaran. Dengan maksud memberikan rasa puas, menghargai usaha, ketekunan, dan keberhasilan yang pada akhirnya memberikan rasa puas dan gembira. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan semangat siswa dalam belajar selanjutnya.
Pembelajaran dengan menggunakan model Quantum Teaching terbukti membuat siswa merasa nyaman dan senang dalam belajar, karena model ini menuntut setiap siswa untuk selalu aktif dalam proses pembelajaran, dan kesempatan siswa untuk menunjukkan kemampuannya akan memudahkan guru untuk mengontrol sejauh mana siswa memperoleh dalam belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Quantum Teaching pada siswa kelas 8 SMP Negeri 1 Tamansari Satu Atap Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali mampu meningkatkan prestasi belajar prakarya pada materi pokok pengolahan bahan pangan Serealia, Kacang-Kacangan dan Umbi menjadi Makanan atau Minuman.
